Ekonomi Indonesia Bertransformasi ke Pertumbuhan Produktif dan Berkelanjutan

5 hours ago 14

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan Indonesia tengah menggeser arah pembangunan ekonomi, dari sekadar menjaga stabilitas menuju pertumbuhan yang lebih produktif, bernilai tambah, dan mampu menciptakan lapangan kerja berkualitas.

Langkah ini disampaikan dalam rangkaian IMF-World Bank Spring Meeting yang digelar pada 13-17 April di Washington DC, Amerika Serikat.

Menurut Purbaya, transformasi ekonomi tersebut didorong melalui tiga pilar utama, yakni investasi, industrialisasi, dan peningkatan produktivitas.

“Kita mendorong industri hilir, memperkuat sektor manufaktur, dan meningkatkan sumber daya manusia dan efisiensi. Jadi ke depannya, pertumbuhan Indonesia tidak hanya akan stabil, tetapi juga lebih produktif dan berkelanjutan serta lebih terdiversifikasi dan tangguh,” ujarnya dikutip dari Antara, Selasa (21/4/2026).

Ia menambahkan, kinerja ekonomi Indonesia saat ini relatif kuat dibandingkan negara G20 dan negara berkembang lainnya. Hal ini didukung oleh pertumbuhan yang stabil, inflasi rendah, serta defisit dan rasio utang yang tetap terjaga.

Selain itu, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dinilai masih berperan sebagai shock absorber untuk menjaga daya beli masyarakat.

Target Pertumbuhan 5,4-6 Persen pada 2026

Dalam forum IMFC Restricted Breakfast Meeting, Purbaya juga menyampaikan optimisme bahwa ekonomi Indonesia mampu tumbuh di kisaran 5,4 hingga 6 persen pada 2026, meskipun di tengah ketidakpastian global.

Optimisme tersebut didukung oleh fondasi ekonomi yang kuat. Pada 2025, ekonomi Indonesia tercatat tumbuh sebesar 5,11 persen.

Selain itu, neraca perdagangan Indonesia juga mencatat surplus sebesar USD 1,27 miliar pada Februari 2026, melanjutkan tren positif selama 70 bulan berturut-turut.

Kinerja ini ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang kuat, inflasi yang terkendali, serta kebijakan hilirisasi yang terus berjalan.

Pemerintah juga akan mengoptimalkan sinergi kebijakan fiskal dan moneter, serta memanfaatkan peran Danantara dalam mendorong investasi di luar APBN.

Waspadai Risiko Global, Perkuat Ketahanan Energi

Meski optimistis, pemerintah tetap mewaspadai dinamika global, terutama ketegangan di Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi harga energi dunia.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, pemerintah menyiapkan bantalan fiskal guna meredam gejolak harga serta menjaga stabilitas bahan bakar bersubsidi.

Langkah ini diharapkan mampu melindungi daya beli masyarakat di tengah tekanan global.

Selain itu, pemerintah juga terus mendorong efisiensi belanja negara serta mempercepat transformasi struktural jangka panjang, termasuk melalui penguatan program hilirisasi.

Dengan strategi tersebut, Indonesia diharapkan tidak hanya mampu menjaga stabilitas ekonomi, tetapi juga menciptakan pertumbuhan yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing di tingkat global.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |