Ekonomi Inggris Turun 6% Gara-Gara Brexit

5 hours ago 10

Liputan6.com, Jakarta - Ekonomi Inggris turun 6% akibat dampak Britain Exit (Brexit). Hal itu berdasarkan analisis ekonom terhadap data internal Bank of England atau Bank Sentral Inggris mengenai keputusan, pandangan dan hasil keuangan ribuan perusahaan Inggris sejak referendum satu dekade lalu.

Mengutip BBC, Jumat, (19/6/2026), dengan memeriksa data yang dipakai bank sentral untuk menentukan suku bunga, studi ini menganalisis pertumbuhan yang hilang dengan mencoba merekonstruksi bagaimana Inggris akan tumbuh jika tidak memilih meninggalkan Uni Eropa.

Ditemukan sekitar setengah dari penurunan ekonomi berasal dari kejutan dan ketidakpastian periode setelah referendum. Sementara itu, sisanya berasal dari meningkatnya hambatan perdagangan setelah Inggris meninggalkan serikat pabean dan pasar tunggal pada 2021.

Namun, beberapa kritikus mengatakan, studi ini tidak sepenuhnya memperhitungkan kinerja lebih baik dari industri investasi dan teknologi Amerika Serikat (AS) atau guncangan energi Eropa empat tahun lalu.

Salah satu penulis studi ini, Profesor Nick Bloom dari Universitas Stanford menuturkan, Inggris tumbuh pesat pada tahun-tahun sebelum Brexit dan setidaknya sebagian dapat mengimbangi AS tanpa gangguan tersebut. Ia menilai, data perusahaan Bank of England menawarkan penguat yang penting. Dari kesimpulan makalah itu, dalam kasus Brexit, terdapat dampak ekonomi yang substansial bagi Inggris Raya, tetapi dampak itu muncul bertahap selama dekade berikutnya.

Hal ini terjadi seiring dengan semakin terbukanya pejabat tinggi bank sentral dalam beberapa bulan terakhir dalam menjelaskan konsekuensi ekonomi Brexit dalam pidato dan wawancara.

“Saya pikir tingkat aktivitas dan pertumbuhan ekonomi lebih rendah sebagai konsekuensi dari Brexit,” ujar Gubernur Bank Sentral Inggris, Andrew Bailey.

“Dan alasannya adalah jika Anda mengurangi ukuran pasar yang kita perdagangkan, jadi kita mengurangi pasar ekspor kita. Itu cenderung berdampak negatif pada pertumbuhan,” ujar dia.

Ia menambahkan, produktivitas dan ukuran pasar juga terpengaruh. Namun, Bailey menuturkan, meskipun dampak pada layanan keuangan tidak baik, itu jauh lebih buruk daripada yang diprediksi banyak orang pada saat itu.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |