Harga Minyak Dunia Merosot ke Level Terendah, Ini Gara-garanya

7 hours ago 17

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia merosot ke level terendah dalam tiga bulan terakhir pada perdagangan Selasa (Rabu waktu Jakarrta) setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat akan mengizinkan Iran kembali menjual minyak mentah segera setelah kesepakatan perdamaian kedua negara resmi diteken.

Dikutip dari CNBC, Rabu (17/6/2026), harga minyak mentah Brent turun 5% dan ditutup di level US$ 78,96 per barel. Ini menjadi pertama kalinya Brent diperdagangkan di bawah US$ 80 per barel sejak Maret 2026. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat terkoreksi lebih dalam sebesar 5,8% ke posisi US$ 76,05 per barel.

Penurunan tajam tersebut dipicu optimisme pasar terhadap berakhirnya konflik yang selama beberapa bulan terakhir mengguncang kawasan Timur Tengah dan mengganggu pasokan energi global.

Menurut laporan The Wall Street Journal, pelonggaran sanksi minyak terhadap Iran akan berlaku segera setelah kesepakatan damai ditandatangani. Langkah tersebut membuka peluang bagi Iran untuk kembali meningkatkan ekspor minyaknya ke pasar internasional.

Seorang pejabat senior AS mengatakan Iran hanya dapat menikmati manfaat dari kesepakatan tersebut apabila mematuhi seluruh komitmen yang telah disepakati. Komitmen itu mencakup penghentian upaya pengembangan senjata nuklir, netralisasi uranium yang telah diperkaya, serta tidak mengganggu lalu lintas kapal di Selat Hormuz.

Selat Hormuz Bersiap Dibuka Kembali

Perhatian pasar juga tertuju pada Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang sebelumnya menyumbang sekitar 20% pasokan minyak dunia sebelum konflik pecah pada akhir Februari lalu.

Sebelumnya, Washington dan Teheran telah mencapai kesepakatan sementara yang memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari sekaligus membuka kembali akses pelayaran internasional melalui Selat Hormuz.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahkan menyatakan kerangka perdamaian dengan Iran telah ditandatangani. Ia memastikan Selat Hormuz akan kembali dibuka sepenuhnya mulai Jumat mendatang tanpa adanya pungutan dari Iran. Penandatanganan resmi kesepakatan dijadwalkan berlangsung di Jenewa.

Meski demikian, pelaku industri pelayaran menilai proses normalisasi lalu lintas kapal tidak akan berlangsung secepat yang diperkirakan pasar.

Chief Executive Officer Mitsui OSK Lines, Jotaro Tamura, mengatakan banyak operator kapal tanker kemungkinan masih akan menunggu beberapa pekan sebelum kembali melintasi Selat Hormuz.

Menurutnya, dunia usaha membutuhkan kepastian bahwa kondisi keamanan di kawasan tersebut benar-benar telah pulih.

"Apa yang dibutuhkan bukan hanya kesepakatan antarnegara, tetapi implementasi nyata di lapangan sehingga perusahaan pelayaran merasa aman untuk kembali beroperasi di Selat Hormuz," ujarnya kepada Financial Times.

Industri Pelayaran Masih Waspada

Meskipun harga minyak telah merespons positif, sejumlah pihak masih menunggu rincian resmi kesepakatan yang hingga kini belum dipublikasikan secara lengkap.

Amos Hochstein, mantan penasihat energi Presiden Joe Biden, mengaku masih mempertanyakan isi kesepakatan tersebut.

"Belum ada yang melihat teks resminya. Jika memang kesepakatan telah dicapai tiga hari lalu, cukup aneh jika hingga sekarang dokumennya belum dipublikasikan," katanya.

Di sisi lain, perusahaan pelayaran global mulai menyambut positif prospek berakhirnya konflik. Raksasa logistik asal Jerman, Hapag-Lloyd, menyebut potensi perdamaian sebagai kabar baik bagi perusahaan, awak kapal, dan pelanggan mereka.

Perusahaan tersebut berharap empat kapal yang masih tertahan dapat kembali melintasi Selat Hormuz pada akhir pekan ini.

Jika kesepakatan benar-benar terealisasi dan jalur pelayaran kembali normal, pasar memperkirakan pasokan minyak global akan meningkat sehingga tekanan terhadap harga energi dapat terus berlanjut dalam beberapa waktu ke depan.   

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |