Harga Pertamax Diproyeksikan Turun Jadi Rp 15.000

5 hours ago 12

Liputan6.com, Jakarta - Meredanya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) diperkirakan membawa dampak positif bagi pasar energi global. Salah satu efek yang mulai terlihat adalah penurunan harga minyak dunia, yang berpotensi menekan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi di Indonesia, termasuk Pertamax.

Pengamat Ekonomi Energi Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, memperkirakan harga Pertamax pada Juli 2026 dapat turun ke kisaran Rp 15.750 hingga Rp 16.100 per liter. Estimasi tersebut didasarkan pada perkembangan terbaru harga minyak Brent setelah tercapainya perdamaian antara AS dan Iran, serta penguatan nilai tukar rupiah.

“Ini estimasi saya berdasarkan harga minyak Brent terbaru pascaperdamaian AS dan Iran dan sedikit penguatan rupiah. Mudah-mudahan pada Juli harga Pertamax bisa berada di Rp 15.891 per liter dengan rentang Rp 15.750-Rp 16.100,” ujar Yayan kepada Liputan6.com, Jumat (19/6/2026).

Berdasarkan kajiannya, harga Pertamax diperkirakan turun sekitar 1–3 persen dibandingkan posisi saat ini yang berada di level Rp 16.250 per liter.

Dalam simulasi dasar menggunakan model Structural Vector Autoregression (SVAR), harga Pertamax diproyeksikan berada di angka Rp 15.891 per liter atau turun sekitar 2,2 persen dari harga saat ini.

Sementara itu, jika mengacu pada formula harga berdasarkan Keputusan Menteri (Kepmen), harga Pertamax berpotensi turun hingga Rp 15.000 per liter, atau sekitar 7,7 persen lebih rendah dibandingkan harga yang berlaku saat ini.

Yayan menjelaskan, meredanya konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya yang berkaitan dengan jalur pelayaran strategis Selat Hormuz, sukses mengurangi tekanan terhadap harga minyak mentah global. Kondisi tersebut membuka peluang bagi penurunan biaya pengadaan BBM di dalam negeri.

Apabila penurunan harga minyak dunia diteruskan sepenuhnya ke tingkat konsumen, harga Pertamax berpotensi turun lebih dalam mendekati Rp 15.000 per liter. Namun, keputusan akhir tetap berada di tangan Pertamina dan pemerintah yang akan menetapkan harga resmi menjelang periode penyesuaian pada Juli 2026.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |