Kelola Ekspor Satu Pintu, Danantara Bakal Bikin Rupiah Perkasa

6 hours ago 16

Liputan6.com, Jakarta - Skema ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) dinilai bakal memberikan keuntungan lewat pengelolaan devisa hasil ekspor (DHE). Langkah ini diklaim bakal turut memperkuat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, lantaran pemerintah tak lagi kesulitan untuk menarik kembali hasil transaksi ekspor ke bank-bank di dalam negeri.

Pengamat Pasar Modal Fendi Susiyanto mengatakan pemerintah selama bertahun-tahun telah berusaha meningkatkan arus DHE ke dalam negeri melalui berbagai instrumen regulasi, tapi belum berhasil.

Hal ini bisa dilihat dari pertumbuhan cadangan devisa di Bank Indonesia (BI) yang tidak mengalami pertumbuhan signifikan, sementara nilai ekspor berbagai komoditas terus melonjak.

"Jika DHE ekspor komoditas ini bisa dikelola bank-bank dalam negeri tentunya BI juga bisa memiliki kemampuan lebih besar saat rupiah mengalami tekanan seperti saat ini. Indonesia harus berani mengambil kebijakan yang mendukung penguatan rupiah melalui aset-aset strategis seperti ekspor komoditas ini," bebernya, Rabu (17/6/2026).

Fendi mengutarakan, sektor komoditas sumber daya alam (SDA) merupakan aset strategis bagi perekonomian Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, ekspor SDA menyumbang sekitar 60 persen dari total ekspor Indonesia.

Tiga komoditas ekspor terbesar meliputi batubara sekitar 8,65 persen, diikuti crude palm oil (CPO) sebesar 8,63 persen, dan ferro alloy sebanyak 5,82 persen.

Ekspor Rp 1.152,8 Triliun

Pada 2024 total ekspor batu bara mencapai US$ 30,49 miliar, produk sawit US$ 27,76 miliar, dan ferro alloy sekitar US$ 13,8 miliar. Secara total, nilai ekspor ketiga komoditas tersebut mencapai US$ 72,05 miliar atau lebih dari Rp 1.152,8 triliun.

"Batu bara, sawit dan nikel sangat strategis dan volume ekspornya sangat tinggi. Sebagai aset sumber daya alam, mestinya komoditas-komoditas penting dunia itu bisa memberikan nilai tambah yang lebih besar kepada perekonomian," ungkapnya.

Menurut dia, keputusan pemerintah untuk memperkuat tata kelola ekspor dengan membentuk PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) memiliki relevansi dengan lalu lintas ekspor komoditas SDA yang belum transparan dan akuntabilitasnya rendah. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya eksportir komoditas SDA yang memiliki perusahaan afiliasi di luar negeri.

Peran Lebih Besar di Perdagangan CPO

Lebih spesifik, Fendi menyatakan, Indonesia seharusnya memiliki peran yang lebih besar dalam perdagangan minyak sawit mentah, atau crude palm oil (CPO) di pasar internasional.

Lantaran Indonesia dikenal sebagai produsen CPO terbesar di dunia, yang seharusnya bisa menentukan harga maupun volume perdagangan daripadanya. Alhasil penerimaan negara nantinya bisa menjadi lebih optimal.

"Jika DSI mampu melakukan monitoring dan menertibkan transaksi ekspor melalui mekanisme satu pintu, rasanya akan banyak dampak positif yang bisa dinikmati pemerintah dan rakyat Indonesia dari sumber daya alamnya ini," tegas Fendi.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |