Meski Suku Bunga Acuan Naik, PIK 2 Pede Penjualan Sentuh Rp 4,3 Triliun

12 hours ago 12

Liputan6.com, Jakarta - PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk atau PIK 2 memastikan belum berencana merevisi target marketing sales tahun 2026 meskipun suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) mengalami kenaikan signifikan.

Corporate Secretary PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk Christy Grassela mengatakan, kenaikan BI Rate menjadi 5,50% memang menjadi salah satu faktor yang diperhatikan perusahaan dengan kode emiten PANI ini. Namun, kondisi tersebut belum mendorong manajemen untuk mengubah proyeksi penjualan yang telah ditetapkan sejak awal tahun.

"Meng-address tentang perkembangan dari BI rate saat ini cenderung meningkat. Sedangkan jika ditarik kolerasinya dengan target marketing sales kami, yang kami tetapkan di awal tahun 2026, mungkin kami cenderung tidak memasukkan faktor interest rate yang tereskalasi ke atas," kata Christy dalam Public Expose Live 2026, Kamis (11/6/2026).

Christy menjelaskan bahwa saat menyusun target bisnis pada awal 2026, perseroan belum memasukkan skenario kenaikan suku bunga yang cukup agresif seperti yang terjadi saat ini.

Menurutnya, kondisi geopolitik dan ekonomi global pada awal tahun berbeda jauh dibandingkan situasi yang berkembang saat ini. Perubahan sentimen pasar dan dinamika global turut memengaruhi arah kebijakan moneter, termasuk keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan.

"Karena pada awal tahun, kondisi geopolitik dan global sangat berbanding terbalik dengan keadaan saat ini. Namun, jajaran direksi sampai detik ini belum ada niat untuk merevisi baik ke bawah atau ke atas target tahunan marketing sales," ujarnya.

Fokus Penjualan Rumah, Ruko, dan Kavling Komersial

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa perseroan masih berpegang pada target marketing sales sebesar Rp 4,3 triliun hingga akhir tahun. Target tersebut ditopang oleh penjualan rumah tapak, rumah toko (ruko), serta kavling komersial yang menjadi andalan perseroan.

Untuk mencapai target Rp 4,3 triliun, PANI akan mengandalkan sejumlah segmen produk yang selama ini menjadi kontributor utama penjualan. Penjualan rumah tapak masih menjadi salah satu sumber marketing sales terbesar. Selain itu, perseroan juga mengandalkan penjualan ruko dan penjualan kavling komersial.

"Kami masih beratokan pada target yang akan dicapai sampai bulan Desember 2026, yaitu Rp 4,3 triliun marketing sales yang akan ditopang dari penjualan rumah, ruko-rukan, dan juga kavling komersial," pungkasnya.

BI Rate Naik Jadi 5,50%

Sebelumnya, Bank Indonesia pada 9 Juni 2026 hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mingguan Bank Indonesia memutuskan untuk kembali menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,50%, suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 4,50%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6,25%.

Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah serta sebagai langkah pre-emptiveuntuk menjaga inflasi pada tahun 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1% yang ditetapkan Pemerintah.

"Kebijakan ini juga ditujukan untuk meningkatkan imbal hasil bagi daya tarik masuknya aliran masuk investasi portfolio asing ke Indonesia," kata Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dikutip dari laman BI.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |