Minat Asuransi Jiwa Kuat, Jumlah Tertanggung Tembus 118 Juta Orang

10 hours ago 12

Liputan6.com, Jakarta - Industri asuransi jiwa mencatat sejumlah indikator positif pada kuartal I 2026. Di tengah dinamika ekonomi yang masih berlangsung, minat masyarakat terhadap produk perlindungan jiwa dinilai tetap terjaga, tercermin dari pertumbuhan premi bisnis baru, meningkatnya jumlah tertanggung, serta bertambahnya nilai uang pertanggungan.

Ketua Dewan Pengurus Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Albertus Wiroyo Karsono mengatakan premi dari segmen individu masih menjadi penopang utama industri dengan nilai Rp 35,75 triliun. Meski turun tipis 2,3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, segmen ini tetap menjadi basis terbesar perlindungan asuransi jiwa di Indonesia.

Sementara itu, premi dari segmen kumpulan tumbuh 5,7% menjadi Rp 11,52 triliun. Kenaikan tersebut menunjukkan meningkatnya kebutuhan perlindungan dari kalangan perusahaan dan institusi.

“Komposisi ini mencerminkan bahwa kebutuhan perlindungan terus berkembang, baik di tingkat individu maupun kelompok,” kata Albertus dalam paparan kinerja industri asuransi jiwa kuartal I 2026 di Graha AAJI, Selasa (2/6/2026).

Dari sisi bisnis baru, industri masih mencatat pertumbuhan positif. Premi bisnis baru secara weighted naik 1,5% menjadi Rp 10,71 triliun, sedangkan secara unweighted meningkat 5% menjadi Rp 27,90 triliun.

Menurut Albertus, pertumbuhan tersebut menunjukkan kebutuhan masyarakat terhadap produk asuransi jiwa masih terjaga. Peningkatan juga didorong oleh tingginya minat terhadap produk premi tunggal (single premium), terutama di kalangan nasabah dengan kapasitas finansial yang lebih kuat.

Produk tersebut dinilai tetap menarik karena menawarkan kombinasi antara perlindungan dan manfaat investasi, sehingga relatif tidak terlalu terpengaruh oleh kondisi ekonomi saat ini.

Bancassurance Masih Terbesar

Di sisi lain, premi lanjutan tercatat sebesar Rp 19,37 triliun atau turun 7,5% secara tahunan. Kendati demikian, kontribusinya masih signifikan terhadap industri karena mencerminkan komitmen nasabah dalam mempertahankan perlindungan jangka panjang.

AAJI juga mencatat bahwa kanal distribusi bancassurance masih menjadi kontributor terbesar bagi premi industri. Pada premi bisnis baru secara weighted, bancassurance menyumbang Rp 3,46 triliun, diikuti direct marketing sebesar Rp 2,69 triliun dan kanal keagenan Rp 2,42 triliun.

Sementara pada perhitungan unweighted, kontribusi bancassurance mencapai Rp 13,24 triliun, disusul direct marketing Rp 6,92 triliun dan keagenan Rp 4,04 triliun.

Selain itu, beberapa kanal distribusi lain turut mencatat pertumbuhan positif. Employee benefit consultant membukukan premi Rp 1,07 triliun, sedangkan broker mencapai Rp 610 miliar.

Menurut Albertus, beragamnya jalur distribusi menjadi faktor penting dalam memperluas akses masyarakat terhadap produk asuransi jiwa. Diversifikasi kanal juga membantu industri menjangkau kebutuhan perlindungan yang semakin beragam.

Model Distribusi yang Efektif

Secara keseluruhan, premi yang berasal dari kanal bancassurance mencapai Rp 18,54 triliun pada kuartal I 2026. Angka tersebut menegaskan bahwa kerja sama antara perusahaan asuransi jiwa dan perbankan masih menjadi model distribusi yang efektif.

Di sisi lain, kanal keagenan mencatat pertumbuhan 1,2% menjadi Rp 14,29 triliun. Kinerja tersebut menunjukkan peran agen asuransi masih penting dalam meningkatkan literasi keuangan sekaligus menjangkau masyarakat secara langsung.

Adapun kanal distribusi alternatif membukukan premi Rp 14,44 triliun. Meski mengalami penyesuaian dibandingkan tahun sebelumnya, kanal ini tetap menjadi bagian penting dalam strategi distribusi industri.

Jumlah Tertanggung

Salah satu capaian yang paling menonjol pada awal tahun ini adalah meningkatnya jumlah masyarakat yang memiliki perlindungan asuransi jiwa. Hingga akhir Maret 2026, jumlah tertanggung mencapai 118,28 juta orang atau tumbuh 20,9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Pertumbuhan tersebut ditopang oleh kenaikan jumlah tertanggung individu sebesar 2,7% menjadi 22,56 juta orang dan tertanggung kumpulan yang melonjak 26,1% menjadi 95,72 juta orang.

AAJI menilai peningkatan jumlah tertanggung menjadi indikator penting karena mencerminkan semakin luasnya jangkauan perlindungan yang diberikan industri kepada masyarakat.

“Keberhasilan industri tidak hanya diukur dari pertumbuhan bisnis, tetapi juga dari seberapa luas perlindungan yang dapat diberikan kepada masyarakat,” ujar Albertus.

Uang Pertanggungan Meningkat

Selain jumlah peserta yang meningkat, total uang pertanggungan juga bertambah 6,5% menjadi Rp 6.449 triliun. Pertumbuhan terutama berasal dari segmen kumpulan yang naik 13,4% menjadi Rp 3.805 triliun, sementara nilai uang pertanggungan pada segmen individu relatif stabil di Rp 2.644 triliun.

Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa industri tidak hanya berhasil memperluas cakupan perlindungan, tetapi juga meningkatkan nilai proteksi yang diterima masyarakat.

Sementara itu, jumlah polis asuransi jiwa tumbuh 3,6% menjadi 22,54 juta polis. AAJI menilai tren tersebut mencerminkan semakin kuatnya posisi asuransi jiwa sebagai instrumen perencanaan keuangan jangka panjang bagi masyarakat Indonesia.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |