Pengusaha: Mati Hidup Industri Keramik Tergantung Suplai Gas

6 hours ago 10

Liputan6.com, Jakarta - Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) mendorong pemerintah menjamin kelancaran pasokan energi dan kepastian harga gas bumi guna menjaga momentum pertumbuhan industri keramik nasional.

Ketua Umum (ASAKI) Edy Suyanto mengatakan, keberlangsungan industri keramik sangat bergantung pada ketersediaan gas bumi yang stabil karena gas tidak dapat digantikan oleh sumber energi lain dalam proses produksi.

“Urat nadi industri keramik ada di suplai gas, industri keramik harus didukung dengan suplai gas. Kenapa? Karena gas bagi industri keramik adalah energi yang tidak bisa disubstitusi. Mati hidup industri keramik ada di kelancaran suplai gas,” katanya, dikutip dari Antara, Senin (25/5/2026).

Menurut Edy, industri keramik nasional sebagai salah satu industri strategis dengan kapasitas terbesar kelima di dunia yang saat ini berada di fase ekspansi perlu mendapat dukungan dari sisi ketersediaan pasokan gas dan harga yang terjangkau.

Disampaikan dia, sektor ini tengah menghadapi tantangan berupa rencana kenaikan harga regasifikasi LNG oleh perusahaan distributor gas mulai Juni mendatang. Harga regasifikasi disebut meningkat dari 14,9 dolar AS menjadi sekitar 21 hingga 25 dolar AS per MMBTU.

Edy menjelaskan, harga beli rata-rata gas untuk industri keramik penerima Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) pada awal Januari 2026 berada di level 9 dolar AS per MMBTU, kemudian naik menjadi 11 dolar AS per MMBTU pada April 2026.

Sementara itu, kenaikan harga regasifikasi LNG pada Juni diperkirakan mendorong harga beli rata-rata gas industri keramik menjadi sekitar 15 dolar AS per MMBTU.

“Artinya, dalam kurun waktu enam bulan ini harga gas naik sangat signifikan di atas 60 persen,” jelas Edy.

Menurut dia, kenaikan harga gas tidak hanya berdampak pada industri keramik, tetapi juga sektor manufaktur nasional secara umum.

Edy juga membandingkan harga gas di Indonesia yang dinilai masih lebih mahal dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand yang masing-masing di angka 9,5 dan 9,9 dolar AS.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |