Program Srikandi Perubahan di Lapas Perempuan Jambi, Upaya Bangun Harapan dan Bekal Hidup Baru

1 day ago 14

Liputan6.com, Jambi - Kehidupan di Lapas Perempuan Kelas IIB Jambi tidak selalu berjalan dalam sunyi. Di balik tembok tinggi dan pintu-pintu besi, ada proses lain yang terus tumbuh pelan: rasa percaya diri, harapan, dan keberanian untuk memulai kembali.

Suara gesekan canting di atas kain, tetes lilin yang jatuh perlahan, hingga warna yang mulai meresap ke permukaan kain menjadi bagian dari keseharian itu. Dari ruang yang serba terbatas, proses pembinaan hadir bukan sekadar rutinitas, melainkan ikhtiar memulihkan hidup.

Semangat tersebut sejalan dengan nilai Hari Bhakti Pemasyarakatan yang diperingati setiap 27 April. Sejak perubahan arah sistem kepenjaraan Indonesia pada 27 April 1964, pendekatan pemasyarakatan tidak lagi hanya menekankan hukuman, tetapi juga pembinaan agar warga binaan dapat kembali ke masyarakat dengan kesiapan yang lebih baik.

Di Lapas Perempuan Jambi, semangat itu diwujudkan melalui Program Srikandi Perubahan yang diinisiasi PT Pertamina EP Field Jambi, bagian dari PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 1. Program ini berangkat dari persoalan yang nyata, yakni tingginya angka residivisme, terutama pada kasus narkoba di kalangan perempuan. Kondisi itu menunjukkan bahwa tanpa bekal keterampilan dan dukungan yang memadai, banyak warga binaan berisiko kembali terjebak dalam siklus yang sama setelah bebas.

Melalui Srikandi Perubahan, upaya memutus mata rantai tersebut dilakukan lewat langkah-langkah kecil yang konsisten. Program ini dimulai pada 2018, sempat terhenti saat pandemi Covid-19, lalu kembali berjalan pada 2021 dengan arah yang semakin kuat.

Salah satu pintu masuk pembinaannya adalah batik. Di dalam lapas, batik tak hanya dipandang sebagai kerajinan tangan, tetapi juga ruang untuk mengekspresikan diri, memulihkan harga diri, dan membangun keyakinan bahwa masa depan masih bisa ditata ulang. Dari setiap garis yang dibuat dan warna yang ditorehkan, tumbuh harapan baru bagi para perempuan yang tengah menjalani masa pembinaan.

Salah seorang warga binaan, Ajeng, bukan nama sebenarnya, merasakan langsung proses itu. Awalnya ia hanya belajar memegang canting, lalu mulai mencoba menjahit. Seiring waktu, keterampilan tersebut menjadi lebih dari sekadar aktivitas harian.

“Saya belajar memperbaiki diri dengan terus belajar. Apa yang saya dapat di sini akan menjadi bekal saat keluar nanti,” ujarnya pelan.

Dari kegiatan membatik, pembinaan kemudian berkembang menjadi lebih luas. Saat ini, sedikitnya ada 10 unit usaha yang berjalan di dalam lapas, mulai dari kuliner, kriya, salon, laundry, hingga pertanian dan peternakan. Dalam keterbatasan ruang, roda ekonomi kecil mulai bergerak, memberi pengalaman baru tentang kemandirian dan keberdayaan.

Pendampingan yang diberikan juga tidak berhenti pada keterampilan teknis. Para warga binaan dibekali kemampuan mengelola emosi, berbicara di depan umum, hingga mengatur keuangan. Kemampuan-kemampuan ini dinilai penting sebagai bekal ketika mereka kembali menjalani kehidupan di tengah masyarakat.

Selain itu, program ini juga memasukkan aspek kepedulian lingkungan ke dalam proses pembinaan. Limbah batik diolah melalui instalasi pengolahan air, kompos diproduksi, dan air hujan dimanfaatkan kembali. Dari sana, terbentuk ekosistem kecil di dalam lapas yang mengajarkan bahwa perubahan bukan hanya soal manusia, tetapi juga tentang cara hidup yang lebih selaras dengan lingkungan.

Apa yang tumbuh di balik tembok lapas itu kemudian mendapat perhatian yang lebih luas. Program Srikandi Perubahan bahkan meraih Platinum Award untuk kategori Women Empowerment dalam ajang 18th Annual Global CSR & ESG Summit & Awards 2026 di Bangkok, Thailand. Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas upaya pemberdayaan yang dilakukan untuk mengembalikan martabat, keterampilan, dan harapan masa depan para perempuan warga binaan.

Manager Community Involvement & Development (CID) Regional 1, Iwan Ridwan Faizal, menegaskan bahwa penghargaan itu bukan tujuan akhir dari program yang dijalankan.

“Melalui Srikandi Perubahan, kami ingin memastikan bahwa para warga binaan tidak hanya menjalani masa hukuman, tetapi juga mempersiapkan masa depan,” jelasnya.

Lewat program ini, Lapas Perempuan Jambi memperlihatkan bahwa pembinaan dapat menjadi ruang perubahan yang nyata. Dari tempat yang kerap dianggap sebagai akhir, justru lahir upaya untuk membangun kembali rasa percaya, keterampilan, dan peluang hidup yang lebih baik.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |