Rammang-Rammang, Kisah Desa yang Menolak Tambang dan Menemukan Masa Depan

19 hours ago 14

Liputan6.com, Jakarta - Di balik hamparan tebing karst yang menjulang dan aliran Sungai Pute yang mengalir tenang, Rammang-Rammang menyimpan cerita yang jauh lebih besar daripada sekadar destinasi wisata.

Kawasan di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, itu bukan hanya menghadirkan panorama alam yang memikat, tetapi juga menjadi simbol perjuangan masyarakat dalam mempertahankan ruang hidup mereka.

Perjalanan menuju Rammang-Rammang dari Kota Makassar memakan waktu sekitar satu setengah jam. Setibanya di dermaga, pengunjung akan disambut deretan perahu kayu yang siap mengantar menyusuri sungai. Dari atas perahu, bentang karst raksasa berdiri kokoh di kedua sisi, membentuk lanskap dramatis yang sulit ditemukan di banyak tempat lain di Indonesia.

Untuk menikmati pengalaman tersebut, wisatawan cukup membayar tiket masuk kawasan desa wisata sebesar Rp7 ribu yang kini dapat dibayar secara digital melalui QRIS. Sementara tarif perahu berkisar Rp200 ribu untuk empat penumpang hingga Rp300 ribu untuk kapasitas sepuluh orang.

Namun, keindahan yang hari ini dinikmati ribuan wisatawan ternyata lahir dari perjalanan panjang yang penuh perjuangan.

Ancaman Eksploitasi Marmer dan Semen

Banyak orang mengenal Rammang-Rammang sebagai kawasan karst spektakuler, bahkan disebut sebagai salah satu bentang alam karst terbesar di dunia. Namun, beberapa tahun silam kawasan ini sempat berada di bawah ancaman eksploitasi marmer dan industri semen.

Sejumlah perusahaan asing disebut pernah melirik kawasan tersebut sebagai lokasi penambangan batuan karst. Kekhawatiran akan rusaknya lingkungan memicu perlawanan warga yang berlangsung selama bertahun-tahun.

Menurut aktivis lingkungan sekaligus pegiat advokasi kawasan Rammang-Rammang, Iwan Dento, wisata justru bukan tujuan awal masyarakat.

"Saya singgung sedikit. Sebenarnya bukan karena tempat ini cantik, lalu kemudian dia menjadi tempat wisata. Karena ada banyak tempat yang mungkin bisa jadi lebih cantik dari tempat ini. Tapi karena kami menolak tambang selama 6 tahun. Cerita itu yang kemudian membuat orang-orang datang," kata Iwan saat ditemui di kawasan Wisata Rammang-Rammang, Maros, Sulawesi Selatan, Selasa (26/5/2026).

Perlawanan terhadap eksploitasi alam itu kemudian berkembang menjadi gagasan membangun pariwisata berbasis lingkungan sejak 2015.

"Nah, secara kelembagaan kita startingnya 2015. Secara kelembagaan ya," ujarnya.

Diminati Wisatawan Mancanegara

Perjalanan waktu membawa Rammang-Rammang dikenal hingga mancanegara. Promosi dari agen perjalanan luar negeri dan berbagai ulasan media internasional membuat kawasan ini masuk dalam rute wisata Indonesia Timur.

Iwan mengatakan banyak wisatawan datang setelah mengunjungi Bali, Lombok, Labuan Bajo, Toraja hingga Manado. Saat ini, wisatawan luar Sulawesi dan turis mancanegara bahkan mendominasi jumlah kunjungan.

Ketika musim liburan Eropa berlangsung sekitar Juni hingga Oktober, aktivitas wisata meningkat tajam. Dalam satu bulan, kunjungan bisa mencapai 5.000-6.000 wisatawan, bahkan pernah menyentuh angka sekitar 7.000 orang.

"Kalau kami gabung wisatawan domestik luar Sulawesi dan mancanegara, sekarang sekitar 75 persen. Lokal justru sekitar 25 persen," ujarnya.

Namun wisatawan yang datang bukan mencari wahana modern atau hiburan buatan. Mereka datang untuk menikmati ketenangan: menyusuri sungai, berkemah di tengah bentang karst, atau sekadar merasakan kehidupan desa yang jauh dari hiruk pikuk kota.

Pariwisata yang Menghidupi Warga

Di balik popularitasnya, pariwisata juga mengubah kehidupan masyarakat setempat.

Di dua dusun utama kawasan wisata, yakni Salenrang dan Rammang-Rammang, hampir separuh penduduk kini terlibat dalam aktivitas pariwisata.

Sekitar 200 kepala keluarga menggantungkan penghasilan dari berbagai sektor, mulai dari operator perahu, pengelola homestay, pedagang makanan, pemandu wisata hingga pelaku usaha kecil lainnya.

Berbagai pihak, termasuk Bank Indonesia, juga turut memberikan pendampingan agar masyarakat mampu mengelola usaha wisata secara lebih profesional.

Meski begitu, warga tidak sepenuhnya meninggalkan mata pencaharian lama. Sawah, kebun dan sungai tetap menjadi bagian penting kehidupan mereka.

“Kami belajar dari Bali waktu COVID. Ketika wisata berhenti, kami masih bisa makan karena tetap punya sawah, ikan, dan kebun," ujar Iwan.

Perputaran Ekonomi Miliaran

Sepanjang 2025, Rammang-Rammang mencatat sekitar 51 ribu kunjungan wisatawan dengan estimasi perputaran ekonomi mencapai Rp 11 miliar.

Menariknya, meskipun jumlah kunjungan lebih rendah dibandingkan tahun 2017 yang sempat mencapai sekitar 74 ribu wisatawan, nilai ekonomi justru meningkat.

Alasannya sederhana. Pengelola kini lebih memilih mengembangkan wisata berbasis minat khusus dibanding mengejar wisata massal.

“Target kami bukan jumlah orang sebanyak-banyaknya, tapi bagaimana income masyarakat bisa naik," pungkas Iwan.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |