Rupiah Perkasa Lagi, Investor Asing Borong Surat Berharga

10 hours ago 13

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan berhasil menembus level psikologis Rp 18.000 per dolar AS. Pergerakan positif ini menjadi sinyal meningkatnya kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia setelah Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 5,50 persen.

Penguatan rupiah terjadi di tengah meningkatnya minat investor asing terhadap instrumen keuangan domestik. Masuknya aliran modal asing ke pasar Indonesia dinilai menjadi salah satu faktor utama yang menopang stabilitas nilai tukar dalam beberapa hari terakhir.

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan respons positif investor terlihat setelah BI memperkuat bauran kebijakan moneternya melalui kenaikan BI Rate serta penguatan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN).

"Pasca kenaikan BI-Rate menjadi 5,50 persen, serta penguatan imbal hasil SRBI dan SBN, investor asing merespons positif penguatan bauran kebijakan tersebut," ujar Ramdan dalam keterangan tertulis, Jumat (12/6/2026).

Menurut dia, penguatan rupiah yang kembali berada di bawah Rp 18.000 per dolar AS tidak terlepas dari meningkatnya daya tarik instrumen keuangan domestik di tengah ketidakpastian pasar global.

Bank Indonesia mencatat aliran modal asing mulai meningkat, terutama pada instrumen SRBI. Arus dana tersebut terlihat setelah pelaksanaan lelang SRBI pada 10 Juni 2026.

Selain itu, investor asing juga mulai kembali melakukan pembelian di pasar Surat Berharga Negara, khususnya untuk tenor pendek dan menengah.

"Hal ini tercermin dari meningkatnya aliran masuk modal asing ke instrumen SRBI pasca lelang SRBI pada 10 Juni 2026. Aliran masuk modal asing juga mulai kembali terjadi di pasar SBN, terutama pada tenor pendek dan menengah," kata Ramdan.

Kembalinya dana asing ke pasar domestik menjadi kabar positif bagi stabilitas pasar keuangan Indonesia. Di tengah tingginya volatilitas global akibat dinamika geopolitik dan arah kebijakan moneter sejumlah negara maju, Indonesia dinilai masih menawarkan imbal hasil yang menarik bagi investor.

Masuknya modal asing juga membantu memperkuat cadangan devisa serta meningkatkan likuiditas pasar keuangan domestik, yang pada akhirnya mendukung penguatan nilai tukar rupiah.

BI Terus Jaga Stabilitas Rupiah

Meski rupiah menunjukkan tren penguatan, Bank Indonesia memastikan akan tetap mewaspadai berbagai risiko yang berasal dari dalam maupun luar negeri.

Ramdan menegaskan BI akan terus menjaga daya tarik instrumen keuangan domestik guna mempertahankan aliran modal asing yang masuk ke Indonesia.

"Bank Indonesia akan terus mencermati perkembangan pasar keuangan global dan domestik serta menjaga daya tarik instrumen keuangan domestik guna mendukung aliran masuk modal asing," ujarnya.

Selain itu, bank sentral juga akan melanjutkan berbagai langkah stabilisasi nilai tukar secara konsisten dan terukur. Upaya tersebut dilakukan melalui intervensi di pasar Non Deliverable Forward (NDF) offshore, serta transaksi spot dan Domestic Non Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.

Untuk diketahui, nilai tukar rupiah membuka perdagangan Jumat (12/6/2026) dengan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Garuda naik 59 poin atau 0,33 persen menjadi Rp 17.930 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp 17.989 per dolar AS.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |