Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS, Begini Cara Bijak Kelola Keuangan

9 hours ago 12

Liputan6.com, Jakarta - Pelemahan nilai tukar rupiah yang terus berlanjut hingga menyentuh level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) mendorong masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam mengelola keuangan. Para analis menilai rumah tangga perlu menerapkan strategi defensif guna menjaga stabilitas keuangan di tengah meningkatnya tekanan terhadap daya beli.

Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures, Nanang Wahyudin mengatakan bahwa pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan harga berbagai barang impor, mulai dari pangan tertentu, obat-obatan, elektronik, hingga biaya transportasi dan logistik.

Kondisi tersebut dapat menggerus daya beli masyarakat, khususnya kelompok kelas menengah, karena kenaikan harga umumnya lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pendapatan.

"Dalam kondisi Rupiah melemah tajam, fokus utama masyarakat adalah: jaga cashflow dan daya beli, kurangi ketergantungan barang impor, hindari spekulasi valas, dan perkuat bantalan keuangan keluarga," kata Nanang kepada Liputan6.com, Kamis (4/6/2026).

Menurut dia, langkah prioritas yang perlu dilakukan masyarakat adalah merapikan anggaran rumah tangga dengan mengurangi pengeluaran yang tidak penting, mencatat seluruh pengeluaran, serta menyiapkan ruang untuk mengantisipasi kenaikan biaya hidup dalam beberapa bulan ke depan.

Memperbesar Dana Darurat

Selain itu, masyarakat juga disarankan memperbesar dana darurat dalam rupiah, setidaknya setara tiga hingga enam kali pengeluaran bulanan. Dana tersebut dinilai penting untuk menghadapi potensi kenaikan harga maupun risiko kehilangan pekerjaan, terutama bagi mereka yang bekerja di sektor yang sensitif terhadap pelemahan rupiah.

Nanang juga mengingatkan agar masyarakat menghindari penambahan utang konsumtif berbunga tinggi. Ia menyarankan masyarakat menunda pembelian barang impor bernilai besar yang tidak mendesak, seperti gadget atau kendaraan, serta tidak melakukan panic buying terhadap kebutuhan pokok maupun bahan bakar.

Terkait kepemilikan valuta asing, Nanang menilai masyarakat tidak perlu ikut-ikutan menimbun dolar tanpa kebutuhan yang jelas. Menurutnya, valas sebaiknya hanya dimiliki oleh pihak yang memang memiliki kewajiban dalam mata uang asing, seperti biaya pendidikan luar negeri atau kebutuhan impor untuk usaha.

"Pakar dan regulator mengimbau warga tidak ikut-ikutan menimbun dolar tanpa kebutuhan jelas, karena itu memperparah tekanan Rupiah," ujarnya.

Investasi ke Instrumen Defensif

Untuk investasi, ia mengatakan pendekatan yang lebih defensif menjadi pilihan yang lebih tepat bagi masyarakat umum. Instrumen berdenominasi rupiah yang relatif aman seperti obligasi pemerintah ritel dan deposito dapat dipertimbangkan sambil tetap menjaga likuiditas.

Sementara itu, emas dapat menjadi salah satu aset pelindung nilai dalam jangka menengah hingga panjang, namun bukan untuk tujuan spekulasi jangka pendek.

Senada, Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, menilai pelemahan rupiah yang berdampak pada kenaikan harga barang konsumsi akan semakin menekan daya beli masyarakat. Dalam kondisi tersebut, masyarakat perlu lebih selektif dalam mengatur pengeluaran agar kebutuhan pokok tetap terpenuhi.

"Karena harga barang-barang konsumsi naik dan mengurangi daya beli dan pendapatan tetap saat ini, pastinya masyarakat perlu berhemat mengurangi pengeluaran yang tersier agar bisa mencukupi kebutuhan pokoknya," kata Ariston.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |