Liputan6.com, Jakarta - Sun Pharmaceuticals India setuju membayar US$ 11,75 miliar atau Rp 209,06 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.790) untuk meng-akuisisi perusahaan kesehatan perempuan dan biosimilars, Organon & Co yang tercatat di New York pada akhir April. Langkah ini menandai akuisisi luar negeri terbesar oleh perusahaan India dalam hampir dua dekade. Ini juga mengikuti serangkaian kesepakatan internasional oleh perusahan India dalam beberapa bulan terakhir.
Ini termasuk langkah Tata Motor akuisisi Iveco senilai US$ 4,4 miliar atau Rp 78,28 triliun. Selain itu, perusahaan IT Coforge akuisisi Encora, perusahaan AI yang berbasis di Silicon Valley senilai US$ 2,35 miliar atau Rp 41,81 triliun. Selain itu, Bajaj Group akuisisi 23% saham raksasa asuransi global Allianz SE pada awal 2025. Demikian mengutip BBC, Selasa, (26/5/2026).
Data dari konsultan Grant Thornton menunjukkan 162 perusahaan India menghabiskan lebih dari US$ 18 miliar atau Rp 320,27 triliun untuk akuisisi perusahaan asing pada 2025, naik 34% dari tahun sebelumnya.
“Kita bisa melampaui nilai transaksi US$ 15 miliar atau Rp 266,89 triliun hanya dalam paruh pertama tahun ini,” ujar Partner dan National Leader Grant Thornton, Sumeet Abrol.
Bagi banyak pihak, gelombang akuisisi perusahaan asing oleh perusahaan-perusahaan India ini membangkitkan kenangan akan aksi pembelian global yang dipimpin oleh perusahaan-perusahaan seperti Tata Group dua dekade lalu, saat mengambil aset unggulan antara lain Jaguar Land Rover dan Corus Steel.
Namun, sejumlah analis menuturkan kepada BBC, motivasi kali ini agak berbeda. Perusahaan-perusahaan India mengejar aset perusahaan asing bukan hanya sebagai simbol ambisi global tetapi semakin didominasi karena alasan strategis dan operasional.
Latar belakang ekonomi secara keseluruhan juga telah berubah tajam sejak awal 2000-an. Selama masa booming akuisisi sebelumnya, India berada di tengah pasar saham yang sedang booming.
Tantangan India
Saat ini, India bergulat dengan eksodus cepat investor asing, perlambatan tajam dalam investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI) dan investasi sektor swasta yang tetap lemah meski ada pemotongan pajak dan diskusi terkait produksi yang ditawarkan oleh pemerintah.
“Keuntungan perusahaan [dari 500 perusahaan teratas India setelah COVID-19), tumbuh 30,8 persen per tahun. Namun, tingkat pembentukan modal secara keseluruhan dari sektor swasta masih mengecewakan,” ujar Kepala Penasihat Ekonomi India, V Anantha Nageswaran.
Para ahli menuturkan, terburu-buru untuk ekspansi ke luar negeri, meskipun ada seruan berulang kali dari pemerintah untuk berinvestasi lebih banyak di dalam negeri, mencerminkan baik meningkatnya ketidakpuasan terhadap lingkungan bisnis domestik dan peluang diversifikasi dan pengembangan kemampuan yang lebih baik di luar negeri.
“Banyak sekali uang India yang mengalir ke luar negeri. Bahkan di antara perusahaan-perusahaan yang kami miliki dalam portofolio kami, banyak yang membangun pabrik baru di AS dan tempat-tempat lain di mana lahan industri hampir gratis dan akses ke modal kerja jauh lebih mudah daripada di sini,” ujar Saurabh Mukherjea dari Marcellus Investments Managers.
Hal ini bukan hanya perusahaan-perusahaan besar yang mendorong tren ini.
Kesepakatan Sun Pharma, atau dukungan yang dilaporkan dari taipan Mukesh Ambani untuk proyek kilang minyak senilai US$ 300 miliar atau Rp 5.337 triliun di Brownsville yang diumumkan oleh Donald Trump, meski tidak dikonfirmasi secara publik oleh keluarga Ambani, mungkin menjadi salah satu contoh yang terkenal.
Perusahaan Kecil di India
Mukherjea menuturkan, puluhan perusahaan kecil India melakukan investasi baru serupa dan mengejar akuisisi yang lebih kecil.
Salah satu pendiri Tracxn, Neha Singh menuturkan, tren ini didukung oleh neraca keuangan lebih kuat dan akses yang lebih baik ke pembiayaan global.
“Perusahaan-perusahaan India semakin banyak mencari akses ke pasar, merek, kemampuan teknologi, keahliaan R&D, dan jaringan distribusi yang mapan di luar negeri yang mungkin membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dibangun secara organik,” ujar Singh.
Para ahli menuturkan, akuisisi ini juga semakin meningkat karena perusahaan berupaya melindungi rantai pasokan di dunia, di mana hambatan dan tarif perdagangan semakin sering digunakan sebagai senjata. Akan tetapi, akuisisi di luar negeri bisa berhasil atau gagal.
Misalnya, pembelian Corus Steel oleh Tata Steel ternyata menjadi beban bagi perusahaan selama beberapa dekade.
Hal yang Mengejutkan
Ia menambahkan, hal yang mengejutkan adalah bahkan setelah bertahun-tahun, perusahaan-perusahaan India masih belum mampu membayar kesepakatan ini dengan saham. Bahkan kesepakatan sebesar Sun Pharma pun dilakukan tunai yang bisa berisiko secara keuangan. Akan tetapi, ini bukanlah akuisisi terakhir.
Mukherjea menuturkan, serangkaian kesepakatan perdagangan bebas antara India dan Inggris, Eropa, Australia dan negara-negara lain dapat mempercepat tren ini dan menyebabkan banjir kesepakatan keluar dari India. Hal ini karena perusahaan-perusahaan menuju ke barat untuk investasi guna membangun basis pada tahun-tahun mendatang.
“Selain itu, banyak pewaris perusahaan generasi berikutnya memilih tinggal dan belajar di luar negeri, jadi wajar jika mereka ingin menyimpan aset mereka dalam mata uang asing, terutama karena rupee kehilangan 40% nilainya terhadap dolar setiap dekade,” ia menambahkan.
Singh menuturkan, ekspansi ke luar negeri akan disertai kehati-hatian selektif pada investasi domestik besar.
India tetap terjebak dalam siklus permintaan yang lemah dan investasi swasta yang lesu, sebuah tren yang kini semakin diperparah oleh guncangan energi global dan risiko yang ditimbulkan oleh artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan yang berorientasi pada agen terhadap pasar kerja yang sudah lemah.
Abrol dari Grant Thornton menuturkan, apakah India akan melampaui US$ 18 miliar atau Rp 320,27 triliun tahun lalu masih belum pasti karena geopolitik.
Namun, tren jangka panjang menurut ahli, arahnya jelas. Perusahaan-perusahaan India akan semakin banyak melakukan lindung nilai terhadap ketidakpastian ekonomi yang meningkat di tengah mengekang arus keluar dolar AS dan menarik modal asing untuk kembali menghidupkan kembali mesin pertumbuhan ekonomi domestik.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6056704/original/062821800_1778945524-LPG_3_kg-16_Mei_2026b.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7031809/original/057648900_1779806408-Beasiswa_pendidikan_bagi_anak_korban_bencana_Sumatera-26_Mei_2026c.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5509317/original/022094500_1771679285-CIO_Danatara_Pandu_Sjahrir_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7028049/original/071419300_1779802522-092338e9-5ca1-4202-a58f-a7e8f437bd3b.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1745869/original/075005800_1508495004-20171020-Rupiah-Menguat-Tipis-atas-Dolar-Angga-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5539267/original/091129700_1774595159-IMG-20260327-WA0004.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7013733/original/010133700_1779786337-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4142628/original/009530000_1661967410-shutterstock_548313280.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5562229/original/091196100_1776820661-Chief_Investment_Officer__CIO__Pandu_Sjahrir-22_April_2026c.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7009830/original/025611000_1779781913-Menteri_Perumahan_dan_Kawasan_Permukiman__PKP__Maruarar_Sirait__meninjau_progres_pembangunan_rusun_di_Kawasan_Meikarta-26_Mei_2026f.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5501244/original/065983200_1770890840-Menteri_Koordinator_Bidang_Perekonomian_Airlangga_Hartarto-12_Februari_2026de.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5485687/original/071253500_1769524080-1756f35c-ee91-4c96-861f-adbd26f34d5c.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7007071/original/006644500_1779778716-1000329744.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6492984/original/056960200_1779350567-bps-catat-kinerja-ekspor-oktober-2015-usd-1208-m.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3545721/original/010981800_1629425276-059440700_1560940276-20190619-Rupiah-Menguat-di-Level-Rp14.264-per-Dolar-AS1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3337094/original/001943000_1609328703-20201230-Rupiah-Ditutup-Menguat-3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2375575/original/026127600_1538739777-20181005-Emas-Antam-6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2776796/original/079090100_1555055276-FOTO_0001.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6408420/original/092112000_1779280892-sepekan-jelang-lebaran-harga-emas-naik-tipis.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6996505/original/066279900_1779766535-Surat_Berharga_Negara.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5534516/original/032481400_1773830288-6_25_juta_orang_berangkat_mudik_menggunakan_angkutan_umum-18_Maret_2026a.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5350921/original/021950500_1758011042-Gemini_Generated_Image_5ndq1c5ndq1c5ndq.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5472767/original/057429900_1768375315-2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500395/original/031439800_1770863987-IMG_9906.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5219631/original/022997400_1747221145-20250514-Harga_Emas-ANG_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5454645/original/011893600_1766566110-kalender_2026.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3352151/original/051235700_1610959710-20210118-Emas-Antam-5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5484428/original/077512500_1769425772-WhatsApp_Image_2026-01-26_at_18.02.15.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4721215/original/050847100_1705711212-fotor-ai-2024012073921.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5254213/original/026298400_1750079066-lonely-accident-patients-injury-woman-bed-patients-hospital-want-go-home-medical-concept.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5495045/original/053747100_1770352755-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4925957/original/089453700_1724395576-IMG-20240823-WA0001.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4805385/original/026453700_1713432947-car-bodies-are-assembly-line-factory-production-cars-modern-automotive-industry-top-view.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2375574/original/030742400_1538739776-20181005-Emas-Antam-5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4881567/original/061423100_1719967228-fotor-ai-2024070373734.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5494532/original/088044000_1770295769-0L5A4471.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500365/original/026266700_1770862471-Kemenhub_akan_membatasi_operasional_truk_besar_selama_angkutan_Lebaran_2026.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5490355/original/083815500_1770008905-Screenshot_2026-02-02_at_12.04.13.png)