Top 3: Blackout Jadi Pelajaran, Sumatera Butuh Sistem Kelistrikan Terintegrasi

15 hours ago 15

Liputan6.com, Jakarta - Lembaga riset Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi) menyatakan pengembangan backbone kelistrikan Sumatera ke depan menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan sistem listrik nasional. Menurut Direktur Puskepi Sofyano Zakaria, melalui penguatan jaringan transmisi 500 kilovolt (kV), 275 kV, hingga pengembangan jaringan 150 kV yang telah tercantum dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034.

"Penguatan backbone Sumatera akan menjadi fondasi penting dalam menciptakan sistem kelistrikan yang lebih terintegrasi dari Aceh hingga Lampung," ujar dia dikutip daru Antara, Kamis, 28 Mei 2026.

Selain itu, lanjutnya pengembangan pembangkit "fast response", modernisasi sistem proteksi, serta pemeliharaan berbasis digital dan prediktif juga menjadi langkah penting untuk memperkuat stabilitas sistem.

Terkait fenomena "blackout" atau pemadaman listrik di Sumatera, menurut Sofyano, perlu dilihat secara proporsional, karena gangguan sistem kelistrikan berskala besar juga pernah terjadi di sejumlah negara maju.

“Sistem kelistrikan negara maju juga pernah mengalami blackout. Jadi gangguan berskala besar seperti ini bukan hanya terjadi di Indonesia,” ujarnya.

Ia mencontohkan pemadaman listrik skala besar di Australia Selatan pada 2016 yang dipicu cuaca ekstrem hingga menyebabkan gangguan beruntun pada jaringan transmisi.

Inggris juga pernah mengalami gangguan sistem kelistrikan pada 2019 yang memicu pemadaman luas dan mengganggu transportasi publik.

Artikel Blackout Jadi Pelajaran, Sumatera Butuh Sistem Kelistrikan Terintegrasi menyita perhatian pembaca di Kanal Bisnis Liputan6.com. Ingin tahu artikel terpopuler lainnya di Kanal Bisnis Liputan6.com? Berikut tiga artikel terpopuler di Kanal Bisnis Liputan6.com yang dirangkum pada Jumat, (29/5/2026):

1. Blackout Jadi Pelajaran, Sumatera Butuh Sistem Kelistrikan Terintegrasi

Lembaga riset Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi) menyatakan pengembangan backbone kelistrikan Sumatera ke depan menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan sistem listrik nasional.

Menurut Direktur Puskepi Sofyano Zakaria, melalui penguatan jaringan transmisi 500 kilovolt (kV), 275 kV, hingga pengembangan jaringan 150 kV yang telah tercantum dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034.

"Penguatan backbone Sumatera akan menjadi fondasi penting dalam menciptakan sistem kelistrikan yang lebih terintegrasi dari Aceh hingga Lampung," ujar dia dikutip daru Antara, Kamis, 28 Mei 2026.

Selain itu, lanjutnya pengembangan pembangkit "fast response", modernisasi sistem proteksi, serta pemeliharaan berbasis digital dan prediktif juga menjadi langkah penting untuk memperkuat stabilitas sistem.

Terkait fenomena "blackout" atau pemadaman listrik di Sumatera, menurut Sofyano, perlu dilihat secara proporsional, karena gangguan sistem kelistrikan berskala besar juga pernah terjadi di sejumlah negara maju.

“Sistem kelistrikan negara maju juga pernah mengalami blackout. Jadi gangguan berskala besar seperti ini bukan hanya terjadi di Indonesia,” ujarnya.

Berita selengkapnya baca di sini

2. Banten Bakal Punya Pabrik AC dan Mesin Cuci Rp 178 Miliar

Perusahaan elektronik rumah tangga, PT Berkat Elektrik Sejati Tangguh (PT BEST) memulai pembangunan pabrik air conditioner (AC) dan mesin cuci di Kawasan Industri Millennium Tangerang, Banten dengan investasi USD 10 juta atau sekitar Rp 178 miliar (kurs 17.857 per USD).

Direktur PT BEST Andy Arif Widjaja mengatakan pembangunan fasilitas produksi ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan untuk membangun fondasi industri yang kuat, berkelanjutan, dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun regional.

“Kami melihat Indonesia memiliki potensi yang sangat besar sebagai basis pertumbuhan industri elektronik. Melalui investasi ini, PT BEST ingin menghadirkan kontribusi nyata, bukan hanya melalui produk, tetapi juga melalui pengembangan teknologi, SDM, dan ekosistem industri nasional,” ujar Andy Arif Widjaja dikutip dari Antara, Kamis (28/5/2026).

Selain itu, langkah bisnis ini menjadi strategis perusahaan dalam memperluas kapasitas manufaktur nasional sekaligus mendukung penguatan industri elektronik dalam negeri di tengah meningkatnya kebutuhan pasar domestik dan pertumbuhan sektor manufaktur Indonesia.

Berita selengkapnya baca di sini

3. Purbaya Usut Dugaan Under Invoicing Batu Bara

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa bakal menelusuri dugaan praktik under invoicing dalam ekspor batu bara. Dia mengaku telah mengantongi data-data awal.

Langkah ini jadi tindak lanjut dugaan under invoicing di sektor ekspor minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO). Pada kasus CPO, Purbaya telah mendapati perbedaan data harga yang diekspor dari Indonesia dengan jumlah yang masuk ke negara tujuan. Komoditas batu bara menjadi objek penelusuran selanjutnya.

"Jadi, kita betul-betul, mereka nggak tahu bahwa kita bisa ambil data yang di tujuan destinasinya. Orang kan bilang, kenapa Amerika? Karena itu yang ada. Tapi yang lain juga bisa, yang baru kita studi itu yang paling cepat. Nanti ada batu bara juga akan kita iniin," ungkap Purbaya di Kantor Kemenko Perekonomian, dikutip Kamis (28/5/2026).

Diketahui, CPO dan batu bara menjadi komoditas yang proses ekspornya akan diatur lebih lanjut. Yakni, dengan melibatkan Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sebagai eksportir tunggal mulai 2027.

Berita selengkapnya baca di sini

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |