Trump Mengancam Serangan ke Iran Bikin Harga Minyak Melejit

17 hours ago 15

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak menguat pada perdagangan Rabu, 10 Juni 2026 (Kamis waktu Jakarta) setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan menyerang Iran “dengan sangat keras”. Ancaman itu kembali membangkitkan kekhawatiran perang skala penuh dapat berlanjut.

Mengutip CNBC, Kamis, (11/6/2026), harga minyak mentah berjangka Amerika Serikat (AS) atau West Texas Intermediate (WTI) naik 2,07% dan ditutup di US$ 90,03 per barel. Harga Brent berjangka naik 1,8% dan ditutup pada US$ 93,10 per barel.

"Kami menyerang mereka dengan keras kemarin, dan kami akan menyerang mereka dengan keras lagi hari ini,” ujar Trump.

"Kami akan menyerang mereka dan menyerang mereka dengan sangat keras,” ia menambahkan.

Presiden Trump sebelumnya memperingatkan di media sosial kalau Iran harus membayar harganya karena terlalu lama bernegosiasi untuk mencapai kesepakatan. Retorika yang meningkat ini muncul setelah militer AS mengatakan telah menyelesaikan serangan terhadap target militer Iran di dekat Selat Hormuz.

Trump juga mengatakan pada Rabu, militer AS secara diam-diam telah membantu 200 kapal komersial dan lebih dari 100 juta barel minyak melewati Selat Hormuz. Ia mengklaim, operasi rahasia tersebut telah mencegah harga minyak melonjak lebih tinggi.

Pasukan AS menyerang Iran pada Selasa malam setelah sebuah helikopter Apache Angkatan Darat Amerika ditembak jatuh sehari sebelumnya, menurut Komando Pusat AS (CENTCOM). CENTCOM menggambarkan operasi tersebut sebagai respons defensif dan terukur terhadap apa yang disebutnya sebagai agresi Iran.

Trump mengatakan, pada Selasa, Iran telah menembak jatuh helikopter AS yang melakukan patroli di dekat Selat Hormuz dan mengindikasikan AS akan membalas.

“Kedua pilot yang terlibat dalam serangan itu selamat dan tidak terluka,” tulis Trump di Truth Social.

“Meskipun demikian, Amerika Serikat harus, tentu saja, menanggapi serangan ini.”

Rystad Energy mengatakan, produksi sebesar 11,8 juta barel per hari  berhenti di enam produsen Teluk telah menciptakan gangguan pasokan minyak paling parah dalam sejarah modern. Konsultan tersebut memperkirakan, kerugian produksi kumulatif telah mencapai 1 miliar barel dan memperingatkan setiap bulan tambahan konflik dapat menghapus 350 juta barel produksi lagi.

Lalu Lintas Selat Hormuz Meningkat, Harga Minyak Langsung Turun

Sebelumnya, harga minyak dunia ditutup melemah pada perdagangan Selasa (Rabu waktu Jakarta) setelah Menteri Energi Amerika Serikat (AS) Chris Wright mengungkapkan bahwa lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz mulai meningkat secara signifikan. Pernyataan tersebut memicu optimisme pasar bahwa gangguan pasokan minyak global dapat mulai mereda.

Dikutip dari CNBC, Rabu (10/6/2026), kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turun 3,4% dan ditutup pada level US$ 88,20 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent yang menjadi acuan internasional terkoreksi 2,97% ke posisi US$ 91,45 per barel.

Dalam wawancara dengan CNBC di sela Atlantic Council Global Energy Forum, Wright mengatakan arus ekspor minyak melalui Selat Hormuz menunjukkan peningkatan yang cukup berarti dan diperkirakan akan terus bertambah dalam waktu mendatang.

Meski demikian, Wright tidak merinci data terkait peningkatan volume minyak yang melintasi jalur pelayaran strategis tersebut.

Penurunan harga minyak terjadi meskipun Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuduh Iran telah menembak jatuh helikopter Apache milik AS yang sedang melakukan patroli di kawasan Selat Hormuz.

Menurut Trump, kedua pilot berhasil selamat dan tidak mengalami cedera. Namun, ia menegaskan bahwa Amerika Serikat harus memberikan respons atas serangan tersebut.

Arus Minyak Hormuz Mulai Pulih

Analis JPMorgan dalam catatan riset tertanggal 4 Juni menyebutkan bahwa volume minyak yang mengalir melalui Selat Hormuz kemungkinan lebih besar dibandingkan yang terlihat secara publik.

Bank investasi tersebut mengungkapkan Angkatan Laut Amerika Serikat secara diam-diam telah berkoordinasi dengan sejumlah kapal tanker yang berupaya keluar dari kawasan Teluk Persia.

Berdasarkan estimasi JPMorgan, sekitar 2 juta barel minyak per hari kemungkinan berhasil keluar melalui kapal tanker yang mematikan transponder atau sistem pelacakan mereka.

“Terlepas dari blokade laut yang masih berlangsung dan penurunan tajam lalu lintas komersial, volume minyak mentah dan produk petroleum yang melintasi Selat Hormuz ternyata masih cukup besar,” tulis analis JPMorgan dalam laporannya.

Temuan tersebut memberikan sinyal bahwa pasokan minyak global belum sepenuhnya terhenti meskipun kawasan tersebut masih diliputi ketegangan geopolitik.

Harapan Kesepakatan dengan Iran

Di sisi lain, Trump berupaya meyakinkan pasar bahwa kesepakatan dengan Teheran untuk membuka kembali akses pelayaran di Selat Hormuz dapat tercapai dalam waktu dekat.

Pada Senin, Trump menyatakan bahwa kesepakatan tersebut kemungkinan hanya berjarak "dua atau tiga hari lagi". Namun hingga kini, kesepakatan resmi masih belum terwujud.

Pemerintah AS dalam beberapa kesempatan menyebut pembicaraan dengan Iran terus berlangsung, meski situasi keamanan di kawasan masih rentan.

Gencatan senjata yang diberlakukan pada April lalu nyaris runtuh pekan ini setelah Iran meluncurkan rudal ke Israel sebagai balasan atas serangan Israel di Lebanon.

Israel kemudian membalas dengan serangan terhadap sejumlah target di Iran. Trump dilaporkan turut menekan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu agar tidak melakukan eskalasi serangan lebih lanjut.

Meski sempat memicu lonjakan harga minyak pada awal pekan, aksi saling serang tersebut sejauh ini belum berkembang menjadi konflik yang lebih besar. Iran dan Israel sama-sama menyatakan telah menghentikan serangan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |