Pro Kontra Kevin Warsh Jadi Bos The Fed, Janjikan Suku Bunga Rendah Berkat AI

9 hours ago 10

Liputan6.com, Jakarta - Langkah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengajukan Kevin Warsh sebagai calon Ketua Federal Reserve (The Fed) menggantikan Jay Powell mulai memicu perdebatan panas. Warsh menjanjikan era suku bunga rendah berkat "ledakan" kecerdasan buatan (AI).

Dalam pernyataannya, Warsh berkeyakinan bahwa AI akan memicu gelombang peningkatan produktivitas terbesar dalam sejarah. Menurutnya, lonjakan produktivitas ini akan memperluas kapasitas produksi AS, sehingga The Fed punya alasan kuat untuk memangkas biaya pinjaman tanpa perlu khawatir inflasi melonjak.

Namun, visi optimis Warsh ini tidak sejalan dengan hasil jajak pendapat terbaru yang dilakukan oleh Financial Times dan Clark Center for Global Markets Universitas Chicago.

Hampir 60 persen dari 45 ekonom yang disurvei menilai dampak AI terhadap harga dan biaya pinjaman dalam dua tahun ke depan akan sangat minim. Mereka memprediksi pengaruhnya terhadap inflasi PCE dan suku bunga netral tidak akan sampai 0,2 persen.

"Saya rasa (ledakan AI) bukanlah guncangan disinflasi," ujar ekonom dari Universitas Johns Hopkins sekaligus mantan pejabat Fed Jonathan Wright, dikutip dari Yahoo Finance, Senin (9/2/2026).

Bahkan, sekitar sepertiga responden justru khawatir fenomena AI bisa memaksa The Fed menaikkan suku bunga netral sedikit lebih tinggi karena adanya lonjakan permintaan investasi

Tekanan Politik dan Target Trump

Upaya Warsh untuk memangkas suku bunga diprediksi akan menemui jalan terjal di internal Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC). Saat ini, suku bunga acuan AS berada di atas 3,25 persen

Donald Trump secara terbuka menginginkan suku bunga turun drastis ke 1 persen untuk memacu ekonomi menjelang pemilihan paruh waktu November mendatang. Padahal, proyeksi FOMC saat ini hanya melihat peluang penurunan sebesar 0,25 poin saja sepanjang tahun ini.

Selain soal suku bunga, Warsh juga disorot karena sikap kerasnya terhadap neraca keuangan The Fed. Ia ingin mengecilkan ukuran neraca yang saat ini mencapai USD 6,6 triliun ke level sebelum krisis 2008, di bawah USD 1 triliun.

Langkah ini dianggap kontradiktif oleh para analis. Di satu sisi ia ingin suku bunga rendah, namun di sisi lain pemangkasan neraca secara agresif justru berisiko.

"Ketidakpastian merajalela. Sulit untuk memprediksi arah kebijakannya secara pasti," kata Jane Ryngaert dari Universitas Notre Dame.

Risiko Krisis Keuangan

Tak hanya soal moneter, para ekonom juga skeptis terhadap agenda deregulasi perbankan yang diusung pemerintahan Trump dan didukung Warsh. Lebih dari 60 persen responden memperingatkan bahwa pelonggaran aturan perbankan mungkin tidak berdampak besar pada pertumbuhan, namun justru meningkatkan risiko krisis keuangan secara signifikan di masa depan.

Kini, pasar menanti keputusan Senat pada pertengahan Mei mendatang. Publik menunggu apakah visi ekonomi Warsh mampu membawa stabilitas, atau justru menjadi tantangan baru yang memicu ketidakpastian bagi perekonomian Negeri Paman Sam.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |