Rupiah Perkasa Pagi Ini, Harapan Damai AS-Iran Tekan Dolar AS

5 hours ago 12

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah menguat pada perdagangan Selasa pagi, seiring meningkatnya optimisme pasar terhadap potensi perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Pada Selasa (21/4/2026), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tercatat menguat 42 poin atau 0,24 persen ke level Rp 17.126 per dolar AS, dari sebelumnya Rp 17.168 per dolar AS.

Penguatan ini tidak lepas dari melemahnya dolar AS di pasar global serta turunnya harga minyak mentah dunia. Sentimen tersebut muncul setelah adanya sinyal kemungkinan pembicaraan damai antara kedua negara.

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan optimisme pasar menjadi faktor utama penguatan rupiah.

“Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS yang melemah dan harga minyak mentah dunia yang turun oleh optimisme apabila kesepakatan damai akan tercapai setelah Iran mempertimbangkan untuk menghadiri pembicaraan damai dengan AS,” ujarnya dikutip dari Antara. 

Laporan Sputnik menyebut Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah mengirim perwakilan ke Islamabad, Pakistan, untuk mengikuti negosiasi terkait Iran.

Kepastian Perundingan Masih Simpang Siur

Meski pasar menunjukkan optimisme, kepastian terkait perundingan damai antara AS dan Iran masih belum sepenuhnya jelas.

Duta Besar AS untuk PBB, Mike Waltz, menyatakan bahwa pembicaraan antara kedua negara akan dilanjutkan dalam waktu 24 jam ke depan. Ia juga membuka kemungkinan perpanjangan gencatan senjata yang sebelumnya berakhir pada 22 April.

Namun, pernyataan berbeda datang dari pihak Iran. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menegaskan bahwa Iran belum memiliki rencana untuk melanjutkan perundingan dengan AS.

Ia juga menegaskan negaranya tidak menerima batas waktu atau ultimatum dalam memperjuangkan kepentingan nasional.

Situasi ini membuat arah kebijakan dan kelanjutan perundingan masih menjadi tanda tanya di pasar global.

Proyeksi Rupiah dan Respons Investor

Di tengah ketidakpastian tersebut, pelaku pasar tetap cenderung optimistis terhadap kemungkinan tercapainya perundingan damai.

“Investor hanya optimistis akan perundingan damai, sedangkan kesediaan berunding Iran masih simpang siur sebenarnya. Ada laporan yang menyebutkan Iran akan mempertimbangkan, ada laporan yang menyebutkan Iran masih menolak. Pasar hanya lebih yakin akan terjadinya perundingan tersebut,” ungkap Lukman.

Optimisme ini menjadi salah satu pendorong penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Ke depan, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik global, terutama terkait hubungan AS dan Iran.

Lukman memproyeksikan nilai tukar rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp 17.050 hingga R p17.200 per dolar AS dalam waktu dekat.

Dengan kondisi tersebut, pelaku pasar diharapkan tetap mencermati perkembangan global yang berpotensi memicu volatilitas di pasar keuangan.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |