ADB Ramal Pertumbuhan Ekonomi Asia dan Pasifik Melambat Imbas Konflik Timur Tengah

7 hours ago 13

Liputan6.com, Jakarta - Asian Development Bank (ADB) prediksi pertumbuhan ekonomi negara berkembang di kawasan Asia dan Pasifik melambat menjadi 5,1% pada 2026 dan 2027, dari sebelumnya 5,4% tahun lalu akibat konflik di Timur Tengah dan masih berlanjutnya ketidakpastian perdagangan.  Inflasi regional akan naik menjadi 3,6% pada 2026 dan 3,4% pada 2027, dari sebelumnya 3,0% tahun lalu.

Prediksi ini menggunakan sejumlah asumsi yang difinalisasi pada 10 Maret dalam kondisi ketidakpastian tinggi, yang merupakan proyeksi sebuah skenario stabilisasi dini terkait konflik di Timur Tengah. Perkembangan sejauh ini menunjukkan peluang lebih besar terjadinya disrupsi yang lebih persisten.

Kawasan ini menghadapi lingkungan global yang penuh tantangan dan ketidakpastian dalam posisi yang relatif kuat, mengingat permintaan domestik yang masih bagus, pasar tenaga kerja yang stabil, dan pengeluaran infrastruktur publik yang lebih tinggi sehingga menopang ketangguhan, menurut Asian Development Outlook (ADO) April 2026 yang dirilis pada 9 April 2026.

"Konflik berkepanjangan di Timur Tengah merupakan risiko terbesar terhadap proyeksi kawasan ini karena situasi tersebut dapat menyebabkan tingginya harga energi dan pangan untuk waktu yang lebih lama, sekaligus kondisi keuangan yang lebih ketat,” ujar Kepala Ekonom ADB Albert Park dikutip dari keterangan resmi, Jumat, (10/4/2026).

“Selain itu, ketidakpastian kebijakan perdagangan yang kembali muncul turut menambah risiko, sehingga pemerintah di berbagai negara perlu menempuh kebijakan makroekonomi yang tepat demi menjaga pertumbuhan dan menahan inflasi, melalui kebijakan yang tepat sasaran untuk melindungi rumah tangga rentan,”.

ADO April 2026 mencakup bagian yang mengkaji dampak konflik terhadap berbagai perekonomian di kawasan ini berdasarkan sejumlah skenario alternatif. Konflik berkepanjangan dan eskalasi di Timur Tengah dapat berdampak terhadap kegiatan ekonomi melalui beberapa jalur, diantaranya melalui kenaikan harga, gangguan pengapalan, dan volatilitas keuangan.

Pertumbuhan Ekonomi China

Sebagian besar perekonomian negara berkembang di kawasan Asia dan Pasifik  mengalami penurunan proyeksi pertumbuhan pada 2026 dan 2027, meskipun pengeluaran rumah tangga masih tangguh dan permintaan barang yang berkaitan dengan kecerdasan buatan masih solid.

Pertumbuhan di China akan menurun ke 4,6% tahun ini dan 4,5% tahun depan, dari 5% tahun lalu, karena masih berlanjutnya penurunan pasar properti dan melambatnya pertumbuhan ekspor, sehingga menahan laju kegiatan ekonomi.

Di India, pertumbuhan diperkirakan melambat menjadi 6,9% tahun ini dari 7,6% tahun lalu, sebelum kembali meningkat 7,3% tahun depan, berkat tangguhnya topangan dari konsumsi domestik. Perekonomian di Pasifik  akan mengalami penurunan yang besar dari 4,2% pada 2025 menjadi 3,4% pada 2026 dan 3,2% pada 2027.

Harga minyak akan tetap tinggi dalam waktu dekat, tetapi secara bertahap dapat kembali menurun jika ketegangan geopolitik mereda. Kenaikan tajam baru-baru ini pada harga energi dan potensi gangguan di pasar pupuk yang berkaitan dengan konflik di Timur Tengah dapat menimbulkan tekanan inflasi harga pangan dunia.

ADB Siap Kucurkan Dana ke Anggota untuk Redam Dampak Konflik Timur Tengah

Sebelumnya, Asian Development Bank (ADB) menyiapkan paket dukungan keuangan untuk membantu negara-negara anggotanya yang sedang berkembang (developing member countries/DMCs) dalam menghadapi dampak ekonomi dan keuangan akibat konflik di Timur Tengah.

Presiden ADB, Masato Kanda, menegaskan bahwa lembaganya akan memberikan bantuan yang cepat, fleksibel, dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing negara.

“ADB akan memberikan dukungan yang cepat, fleksibel, dan dapat disesuaikan untuk membantu negara-negara mengatasi tekanan mendesak dan memperkuat ketahanan jangka panjang, terutama melalui dukungan anggaran yang dapat dicairkan dengan cepat serta pembiayaan perdagangan dan rantai pasokan guna menjamin impor barang-barang penting, yang kini mencakup minyak,” kata dia dalam keterangan tertulis, Rabu (25/3/2026).

Ia menambahkan, langkah ini sejalan dengan pengalaman ADB dalam mendukung kawasan Asia dan Pasifik saat menghadapi ketidakpastian global.

ADB juga memastikan memiliki sumber daya yang cukup untuk menjaga keberlanjutan program yang sedang berjalan sekaligus memperluas dukungan darurat, termasuk melalui pemanfaatan fasilitas pinjaman kontra-siklus.

Gangguan Energi hingga Pangan Jadi Ancaman Serius

ADB terus memantau dinamika pasar global, khususnya terkait fluktuasi harga energi, tekanan inflasi, serta kondisi neraca transaksi berjalan di kawasan Asia dan Pasifik.

Berdasarkan analisis terbaru, gangguan jalur pengiriman telah menyebabkan kenaikan biaya logistik dan waktu distribusi. Risiko pasokan tidak hanya terjadi pada sektor energi, tetapi juga merambah bahan baku industri seperti petrokimia dan pupuk.

Kondisi ini berpotensi berdampak besar terhadap sektor pertanian dan produksi pangan. Selain itu, negara yang bergantung pada pariwisata dan remitansi juga menghadapi tekanan yang semakin besar.

Konflik ini turut meningkatkan ketidakpastian global dan memperketat kondisi keuangan di kawasan, sehingga menekan nilai tukar dan memicu arus keluar modal dari negara berkembang.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |