Swasembada Pangan: 7 Komoditas Ini Tak Perlu Impor Lagi

5 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan pasokan pangan Indonesia dalam kondisi mencukupi. Mayoritas komoditas pangan RI didapat dari produksi dalam negeri.

Mengacu pada Proyeksi Neraca Pangan Nasional 2026, 7 komoditas pangan mampu dipenuhi produksi dalam negeri. Sementara itu, 3 komoditas lainnya masih memerlukan impor sebagian.

"Kita hanya mengimpor dua atau tiga yang dominan. Kedelai dan bawang putih. Lalu daging sapi tapi tidak dominan," kata Deputi Bidang Ketersediaan Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa dalam keterangan resmi, Jumat (10/4/2026).

Sementara itu, komoditas seperti beras, jagung, bawang merah, cabai, daging ayam ras, telur ayam ras, dan gula diproyeksikan tidak ada impor untuk pemenuhan kebutuhan konsumsi.

"Berdasarkan data Proyeksi Neraca Pangan, kita ada minimal 10. Nah beras kita sangat bagus, artinya beras dengan produksi tahun lalu 34,7 juta ton. Kemudian carry over stock tahun kemarin ke tahun ini adalah 12 juta ton. Nah target kita di tahun 2026, kita akan punya carry over stock ke 2027 hingga 16 juta ton. Ini besar sekali," bebernya.

Adapun angka carry over stock beras hingga akhir tahun 2026 tersebut berasal dari carry over stock di awal 2026 yang berada di angka 12,4 juta ton ditambah proyeksi produksi beras setahun 34,7 juta ton. Selanjutnya dikurangi kebutuhan konsumsi beras setahun 31,1 juta ton, sehingga diestimasikan stok beras nasional di akhir 2026 masih dapat mencapai 16 juta ton.

Stok Beras Bulog Melimpah

Stok beras yang dikelola Bulog pun dipastikan tak ada impor karena sejak 2025. Ketut memastikan sepenuhnya dipasok dari penyerapan gabah setara beras hasil panen petani Indonesia.

"Cadangan beras kita di Bulog sekarang ini mencapai lebih 4 juta ton. Kita akan menyerap lagi sampai 4 juta ton. Artinya dari sisi produksi, gabahnya sangat bagus," ujar Ketut.

"Kemudian kita juga punya cadangan jagung yang bagus. Jagung pakan kita sudah swasembada. Kemudian daging ayam kita kuat. Telur kita kuat. Cabai kita kuat. Bawang merah kita kuat," sambungnya.

Tingkatkan Produksi Pangan

Meski demikian, Ketut memastikan pemerintah akan berupaya meningkatkan produksi pangan dalam negeri, termasuk pangan pokok strategis yang belum berdikari. Kementerian Pertanian sudah memulai akselerasi untuk hal tersebut.

"Kita sudah mulai produksi dan Bapak Menteri Pertanian akan bergerak terus. Sebagaimana kemarin di acara taklimat di Istana, beliau menyampaikan target-target ke depan. Bagaimana bawang putih, kemudian termasuk juga penguatan produksi kedelai, susu, dan lain sebagainya," jelas Ketut.

"Tentu kekuatan kita, stok kita relatif sangat bagus di tahun 2026 ini dan mudah-mudahan ke depan juga semakin kuat kita," pungkas dia.

Sudah Swasembada Pangan

Sebelumnya, Menteri Pertanian/Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman mengungkapkan Indonesia sudah meraih swasembada pangan, yakni pangan yang menjadi sumber karbohidrat dan protein. Capaian ini menegaskan bahwa produksi pangan dalam negeri mampu menopang kebutuhan konsumsi nasional tanpa bergantung pada impor.

"Pangan kita ini sudah swasembada pangan, protein dan karbohidrat. Jadi pangan yang dibutuhkan tubuh itu protein dan karbohidrat. Kita sudah swasembada hari ini," papar Amran Sulaiman dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi IV DPR RI, Jakarta (7/4/2026).

Pencapaian swasembada karbohidrat dan protein tersebut termaktub dalam Proyeksi Neraca Pangan Nasional Tahun 2025. Untuk beras sepanjang tahun 2025 tidak ada impor karena produksi setahun mencapai 34,7 juta ton telah dapat memenuhi kebutuhan konsumsi tahunan sebesar 31,1 juta ton.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |