Selain Maskapai, Turis Alami Dampak Kenaikan Harga Bahan Bakar

5 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Realita baru mulai muncul bagi pelancong atau turis di seluruh dunia karena harga bahan bakar naik. Hal itu mulai dari kenaikan biaya, pilihan penerbangan lebih sedikit oleh maskapai dan keputusan sulit mengenai perjalanan itu sepadan dengan biayanya.

Mengutip abcnews.com, Jumat, (10/4/2026), realita baru yang dihadapi pelancong itu disebabkan fluktuasi harga minyak dan bahan bakar jet yang telah melonjak tajam sejak perang di Timur Tengah dimulai dan pertempuran di dekat Selat Hormuz yang sempit menciptakan hambatan bagi pasokan minyak global.

"Volatilitas adalah cerita sebenarnya di sini. Saat ini maskapai mencoba bertaruh pada apa yang mereka pikir akan terjadi pada masa depan,” ujar mantan kapten maskapai yang sekarang mengajar  di sekolah bisnis Universitas Georgetown, Shye Gilad dikutip dari abcnews.com.

Maskapai merespons dengan hati-hati, memangkas jadwal dan menyesuaikan harga dengan cara yang menurut para ahli akan berdampak tidak merata di seluruh pasar tetapi akhirnya akan memengaruhi hampir setiap jenis pelancong.

Maskapai murah dan pelanggan yang peka terhadap harga yang bergantung pada mereka akan merasakan dampaknya lebih dulu. Namun, pelancong di kabin premium pun tidak akan terhindar dari harga lebih tinggi dan jadwal yang kurang nyaman.

Harga minyak dunia telah bergejolak dalam beberapa pekan terakhir, sempat mencapai USD 119 per barel dan kemudian anjlok pada Rabu pekan ini di bawah USD 95 setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan gencatan senjata dua minggu di Timur Tengah yang sempat membuka kembali Selat Hormuz.

Namun, ketidakpastian di balik gejolak harga minyak tetap ada, terutama setelah Iran kembali menutup jalur terutama pengiriman minyak global sebagai respons terhadap serangan Israel di Lebanon.

"Ketika harga bergerak cepat ke kedua arah, sangat sulit bagi maskapai untuk membuat prediksi. Itulah mengapa ada jeda antara pergerakan pasar minyak dan apa yang dilihat penumpang dalam harga tiket,” ujar Gilad.

Biaya Operasional Maskapai Naik

Dengan kata lain, saat harga minyak turun, pelancong mungkin tidak langsung merasakan keringanan. Maskapai dapat membutuhkan waktu berbulan-bulan, bahkan hingga satu tahun, untuk menyesuaikan tarif dan biaya sambil menunggu pasar energi stabil.

“Pada tingkat harga bahan bakar seperti ini, sulit untuk menyebut apapun bersifat sementara,” kata CEO Delta Air Lines, Ed Bastian kepada wartawan.

Bastian menuturkan pada Rabu pekan ini, ketika Delta memulai musim laporan keuangan, kenaikan harga bahan bakar akan menambah biaya operasional sebesar USD 2 miliar hanya dalam kuartal kedua.

Sementara itu, dalam memo baru-baru ini kepada staf, CEO United Airlines Scott Kirbin menuturkan, jika harga bahan bakar jet tetap tinggi, itu akan berarti tambahan biaya tahunan sebesar USD 11 miliar. Itu lebih dari dua kali lipat keuntungan pada tahun paling menguntungkannya.

“Sebagai perbandingan, pada tahun terbaik United, kami menghasilkan kurang dari USD 5 miliar,” ujar dia.

Berdasarkan Asosiasi Transportasi Udara Internasional atau the International Air Transport Association, harga rata-rata bahan bakar jet global naik menjadi USD 209 per barel pekan lalu, naik dari sekitar USD 99 pada akhir Februari saat perang harga dimulai.

Para pelancong dari AS ke Hong Kong dan New Delhi menanggung akibatnya. Maskapai memasukkan biaya operasional yang lebih tinggi ke dalam harga tiket dan biaya tambahan. Delta, United, Southwest Airlines dan JetBlue semuanya telah menaikkan biaya bagasi terdaftar mereka.

Langkah Maskapai Hadapi Lonjakan Biaya

United telah melangkah lebih jauh dari sekadar biaya tambahan untuk menyesuaikan harga di kabin depan. Pekan lalu, maskapai mengatakan akan menerapkan pendekatan “bayar sesuai keinginan Anda” yang sudah menjadi standar di kelas ekonomi ke kabin premium-nya, mengubah fasilitas seperti pemilihan kursi di muka dan tiket yang dapat dikembalikan sepenuhnya menjadi tambahan opsional.

Baru-baru ini Cathay Pacific menaikkan biaya tambahan bahan bakar sekitar 34% di semua rute. Pada Senin pekan ini, Air India menambahkan biaya hingga USD 280 untuk beberapa penerbangan.

Emirates, Lufthansa, dan KLM juga telah menyesuaikan biaya atau tarif untuk mengimbangi volatilitas harga.

Bagi sebagian pelancong, bukan hanya biaya, tetapi ketidakpastian yang mengubah cara mereka merencanakan perjalanan.

Bill Moorehouse (50), direktur di penyedia layanan bisnis dan teknologi global rutin melakukan perjalanan kerja setiap empat hingga enam minggu.

“Saat Anda melakukan perjalanan bisnis dan memiliki jadwal yang terkoordinasi dengan cermat, Anda tidak menginginkan hal-hal yang tidak terduga dan gangguan. Saat ini, rasanya lebih mungkin terjadi kesalahan dan mengacaukan perjalanan Anda,” ujar warga Cupertino, California.

Untuk saat ini, ia memilih tetap berada di dekat rumah. “Saya rasa ini waktu yang tepat untuk melakukan bersih-bersih rumah dan berhubungan kembali dengan teman-teman di sekitar sini,” kata dia.

Maskapai Sesuaikan Jumlah Penerbangan

Sementara itu, maskapai juga menyesuaikan jumlah penerbangannya. Adapun BNP Paribas memprediksi, jadwal penerbangan global pada April telah dipangkas sekitar 5% dibandingkan dengan rencana sebelumnya.

Sebagian besar pengurangan terjadi di Timur Tengah meski pengurangan lebih kecil juga muncul di Eropa, Asia dan Amerika Utara.

United Airlines memangkas sekitar 5% dari penerbangan yang direncanakan dalam waktu dekat, mengurangi rute kurang menguntungkan dan menangguhkan beberapa layanan internasional untuk sementara waktu daripada membakar uang pada perjalanan yang tidak dapat menyerap biaya bahan bakar yang lebih mahal.

CEO maskapai itu mengatakan pengurangan itu akan menargetkan penerbangan malam hari dan rute pada hari-hari perjalanan yang secara historis lebih sepi antara lain Selasa, Rabu dan Sabtu.

Sementara itu, Delta membatalkan rencana untuk menambah lebih banyak penerbangan dan kursi musim ini.

Musim panas, menyisakan sekitar 3,5% lebih sedikit kursi daripada yang direncanakan semula.

Langkah-langkah ini menunjukkan mengapa maskapai besar lebih siap menghadapi lonjakan harga bahan bakar daripada maskapai penerbangan berbiaya rendah, yang model "tanpa embel-embel" membuat mereka kurang fleksibel untuk menyerap biaya tak terduga. Maskapai yang lebih besar dapat mengandalkan penetapan harga dinamis, menjual lebih banyak kursi dengan tarif lebih tinggi, atau mengganti pesawat yang lebih besar pada rute tertentu, memungkinkan mereka untuk mengurangi penerbangan tanpa kehilangan kapasitas keseluruhan.

“Para pelancong rekreasi dan pelancong yang hemat anggaran akan merasakannya terlebih dahulu karena hal itu dapat membuat perbedaan antara pergi dan tidak pergi,” kata Gilad.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |