Serangga Ternyata Bisa Dongkrak Produktivitas Kelapa Sawit, Begini Cara Kerjanya

15 hours ago 17

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Pertanian bersama Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) memperkenalkan serangga penyerbuk terbaru guna membantu meningkatkan produktivitas kelapa sawit.

Direktur Perbenihan Perkebunan, Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian Ebi Rulianti mengatakan meskipun berukuran kecil, peran serangga penyerbuk sangat besar dalam menentukan terbentuknya buah yang menjadi sumber utama produksi minyak sawit.

“Kita belajar dari sejarah bahwa inovasi kecil bisa membawa dampak besar,” ujarnya, dikutip dari Antara, Jumat (10/4/2026).

Pada 1982 introduksi serangga penyerbuk menjadi titik balik yang mendorong lonjakan produktivitas secara signifikan, tambahnya, 40 tahun kemudian yakni pada 2026 di Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Unit Marihat, tiga pendatang baru serangga penyerbuk dari Tanzania resmi diperkenalkan yakni Elaeidobius subvittatus, Elaeidobius kamerunicus, dan Elaeidobius plagiatus.

Menurut Ebi Rulianti, pengenalan serangga penyerbuk terbaru tersebut menjadi langkah strategis dalam menjaga keberlanjutan industri kelapa sawit Indonesia.

Keberadaan serangga penyerbuk, tambahnya, dinilai mampu menekan biaya dalam kegiatan budidaya, khususnya pada aspek penyerbukan, sehingga mendukung efisiensi di sektor perkebunan kelapa sawit.

“Kita menandai langkah strategis dalam keberlanjutan industri kelapa sawit Indonesia. Keberadaan serangga ini sangat mampu menurunkan biaya dalam produktivitas sawit,” ujar dia saat sambutan pelepasan serangga penyerbuk di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara yang merupakan bagian dari rangkaian peringatan HUT Ke-45 Gapki.

Selain Kementan dan Gapki, introduksi serangga penyerbuk hingga pelepasan tersebut juga melibatkan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Badan Karantina Indonesia, PT Riset Perkebunan Nusantara, Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), dan konsorsium perusahaan anggota Gapki.

Ebi menegaskan seluruh proses yang dilakukan sudah melalui tahapan ilmiah dan regulasi yang sangat ketat serta dapat dipertanggungjawabkan.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |